(Sinar Harapan, 1975) Gatot Susilo Sumowijoyo: Nonton “Anastasia” di Surabaya

Nonton “Anastasia” di Surabaya

Oleh: Gatot Susilo Sumowijoyo

DKS-750222-SH-DKS-Gabungan Teater Surabaya-Anastasia- (2)

Pementasan “Anastasia” produksi Dewan Kesenian Surabaya, gabungan aktor dari Bengkel Muda Surabaya, Teater Lekture, Teater Merdeka, dan Teater Sandradekta

KISAHNYA bermula dari Revolusi Sosial di Rusia pada tahun 1917. Revolusi ini tentu saja berakibat sangat luas. Korban-korban yang ditelannya tidak sedikit, tapi akibat khusus yang amat menyedihkan telah menimpa Tsar Nikolai II beserta keluarganya.

Sebagai sasaran utama revolusi, Tsar Nikolai II, seorang kaisar yang korup, dan sewenang-wenang, dibunuh oleh pejuang “revolusioner”. Permaisuri dan kelima orang anaknya tidak terkecuali. Anastasia adalah salah seorang diantara mereka.

Tapi, benarkah Anastasia telah mati terbunuh? Dan benarkah Anastasia masih hidup, seperti yang tersiar dalam masyarakat sebagai desas-desus. Misteri inilah yang diketengahkan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) di Gedung Mitra, dalam suatu lakon kendatipun film tentang itu sudah ada sejak lama.

TANGGAL 11 Pebruari 1975 malam, Gedung Mitra penuh dengan penonton. Rasanya ini wajar, mengingat, pertama, publikasinya cukup luas, (tidak seperti yang sudah-sudah), sehingga publik dapat terjangkau dalam radius yang agak jauh. Kedua, penonton bisa menonton dengan Cuma-Cuma. Ketiga, pementasan Anastasia adalah atas nama DKS, tanggung jawab DKS. Keempat, penampilan dramawan-dramawan yang mewakili grup teater Bengkel Muda Surabaya, Merdeka, Sandradekta, dan Lekture, diharapkan dapat menyuguhkan pertunjukan yang ‘aduhai’. Setidaknya aktor aktris tersebut menjamin berhasilnya pementasan.

Secara keseluruhan, pementasan Anastasia boleh dikatakan berhasil. Para aktor dan aktris umumnya bermain lumayan. Akting mereka boleh juga. Namun sudahkah itu merupakan prestasi mereka yang maksimal?

Dalam drama bahasa memegang peranan sangat penting, kalau tidak boleh dikatakan vital. Inilah yang membedakan drama dengan pantomime. Memang bahasa dalam drama adalah komunikator yang menentukan. Sudah tentu, suara yang keluar dari mulut aktor aktris dalam bentuk ucapan-ucapan itu benar-benar berfungsi. Jika suaranya kurang nyaring, kurang keras, publik tidak dapat mengikuti jalannya cerita. Komunikasipun terputus. Apalagi kalau suara itu tidak didukung oleh sound system yang sempurna.

SUARA Sunarto Timur (Drivinitz) sedikit mengganggu telinga penonton karena lembut. Suara aktor aktris yang lain cukup mampu mencapai telinga penonton. Lebih-lebih suara Bambang Sudjiono (Kusir), Niki Kosasih (Chernov), dan Vincentius Djauhari (dr. Serensky). Bahasa ketiga aktor ini cukup kuat, jika dilihat dari segi tekanan kata (aksen, stress)  dan lagu kalimat (intonasi). Artinya, mereka dapat berbahasa sesuai dengan suasana hati, emosi ataupun perasaan yang diperankannya. Dengan kata lain, ucapan-ucapan mereka ekspresif. Begitu juga Ny. Mai Basuki Pudjianto (maharani).

Dari segi inilah tampak kelemahan Anang Hanani (pangeran Boenine), kendatipun ia berusaha berakting secara baik. Dan dari segi ini pulalah tampak keberhasilan Nunuk Sugiarto (Anna), meskipun pembawaannya paling menonjol malam itu. Karena berlebih-lebihan maka dialog-dialog Nunuk terasa seperti deklamasi yang diucapkan oleh seorang deklamatris. Ini mungkin disebabkan oleh kesentimentilannya ataupun kegenitannya.

Keberhasilan juga terlihat pada tata rias (make-up) yang dipulaskan pada Bambang Sudjiono, sehingga seorang kusir jadinya berwajah menyeramkan. Dalam hubungan ini, mungkin orang bertanya, sudahkan tata rias dan dekor sesuai dengan keadaan yang sebenarnya? Walaupun pertanyaan ini hanya sekedar pertanyaan, ia menyarankan kita untuk mengadakan pengamatan seperlunya.

Akan tetapi, kalau itu dipermasalahkan, persoalannya tidak akan pernah selesai. Sebab, di dunia Anastasia berbeda dengan dunia kita. Konteks Anastasia berlainan sama sekali dengan konteks kita. Jadi “penghayatan” tidak dapat diharapkan terlalu banyak. Itu pulalah sebabnya, maka kita tidak bisa berbicara tentang kewajaran dalam pengertian yang luas. Hanya Basuki Rahmat lah yang tahu, sebab dia adalah penterjemah naskah dan sutradaranya.

KETIKA babak II berakhir, jam menunjukkan waktu pukul 23.00. maka bergeraklah kaki-kaki, meninggalkan tempat duduknya. Mereka keluar dari gedung Mitra dan tidak kembali. Kursi-kursipun tidak sedikit yang lowong. Padahal masih satu babak lagi.

Boleh jadi, mereka lelah, bosan, atau ngantuk. Entahlah. Dalam undangan dinyatakan penonton sudah harus hadir pada pukul 18.30. nyatanya acara baru dimulai pukul 20.00,

Memang lakon yang panjangnya 3 babak dapat menjemukan, terutama bagi penonton awam. Atau yang setengah-setengah. Tapi situasi dramatik tetap bertahan, sekalipun tidak setinggi pada mulanya.

Itulah Anastasia karya Marcelle Maurette, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Basuki Rahmat. Pementasan Anastasia merupakan produksi ke II DKS setelah “Lawan Catur” pada tahun 1973. Keduanya lakon asing. Kapan DKS menampilkan lakon Indonesia?

Sumber: Harian Sinar Harapan, 22 Pebruari 1975.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s