(Aneka, 1952) Bercakap-cakap dengan Bintang: Abdul Hamid Arif

Bercakap-cakap dengan Bintang:

Abdul Hamid Arif

Oleh: Wim Umboh

Abdul Hamid Arief - FIlm Surjani Mulia

Abdul Hamid Arief dalam film Surjani Mulia

HAMID bintang film. Memang sudah pada tempatnya kalau A.H. arief kita namakan demikian. Karena dalam sekian banyak film yang telah beredar, tidak pernah Hamid menyuruh penonton garuk-garuk kepala atau “go home” sesudah istirahat (yang memang sering terjadi kalau film Indonesia diputar) malah dibuatnya penonton sebagai tak mau beranjak lagi dari kursinya, karena permainannya yang sungguh-sungguh, peranan yang diperankan dibuatnya dari tiada menjadi ada. Tidaklah mengherankan kalau Hamid selalu dibanjiri surat-surat yang datang dari berbagai kepulauan di Indonesia. Hingga ada diantara pengirim surat sampai ketelanjuran menulis kalimat-kalimat yang romantis. Tetapi diantara pengirim-pengirimnya ada juga yang menaruh perhatian kepada diri Hamid dari sudut lain. Misalnya, mereka ingin tahu umurnya berapa, siapa gerangan istrinya, apa filmnya yang terakhir, dan lain-lain.

Maka ada baiknya, untuk memenuhi permintaan saudara-saudari itu saya terakan di sini ringkasan biografienya.

Abdul Hamid Arief 1Kalau hendak menemui Hamid, janganlah saudara ke rumahnya yang terletak di tengah-tengah kota Jakarta, ialah di bagian Jati Baru Atlas, karena sudah pastilah tidaklah saudara menjumpainya sebab demikian kebiasaan Hamid setelah hari menjadi siang, bersamaan denganmasuknya rembulan di ufuk Barat, ia juga menghilang dari rumahnya. Dan nanti di kala matahari telah condong barulah ia dengan langkah gembira memasuki ambang rumahnya. Itupun tidak lama ia di rumah, kewajiban lain menunggu kedatangannya. Kemana gerangan Bung Hamid kita sepanjang hari…….?

Ditinjau dari permainan di film-nya yang sudah-sudah maka Hamid dapatlah dikatakan Great Stars of Indonesia di masa sekarang.

Dan sudah tentu sebagai seorang bintang kelas wahid, apa saja yang diminta pasti diluluskan oleh majikan. Namun Hamid tidak pernah berbuat demikian, ia menerima kalau diberi. Setiap hari Hamid berada di Studio, padahal dalam sebulan mungkin hanya seminggu saja ia turut opname. Dari pagi hingga petang tiada lain yang dikerjakannya di Studio ialah bercerita dari Timur ke Barat, dengan tidak bosan-bosannya.

Dan kalau sedang opname ia juga turut membantu sutradara mendidik para new comer. Malamnya ia harus pula ke studio radio. Itulah sebabnya saya katakan tadi, kalau hendak menemuinya, baiklah ke studio daripada ke rumahnya.

PADA suatu hari saya iseng melancong ke studio Golden Arrow yang terletak di Senen Raya 43 Jakarta, di perusahaan mana, Hamid sekarang bermain. Memasuki studio=studio film Indonesia tidaklah sukar, buka seperti hendak memasuki studio Paramaount misalnya, seperti dikatakan oleh Usmar Ismail dan begitu juga menjumpai salah satu bintang film Indonesia amat gampang, tidak seperti bintang-bintang Hollywood yang mempunyai jam tertentu untuk menerima tamu. Di studio Golden Arrow-lah saya dapat menjumpai Hamid Arief yang sedang asyik dengan ceritanya.

Kami berkenalan, dan beberapa saat kemudian, saya telah menjadi anggota pendengarnya. Lama kelamaan saya telah berani mengajukan beberapa pertanyaan yang dijawabnya dengan segala senang hati. Dan dengan demikian   dapatlah saya sajikan kepada sidang pembaca ringkasan biografinya ini yang sudah barang tentu tidak lengkap karena ada beberapa hal yang katanya masih perlu dirahasiakan.

Abdul Hamid Arief 2

Abdul Hamid Arief

Hamid sekarang telah mencapai usia 28 tahun. Ia dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 25 November 1924, dari keluarga menengah. Berpendidikan MULO tidak tamat, karena Indonesia mendapat kunjungan tamu istimewa dari Jepang. Di masa revolusi, Hamid juga tidak ketinggalan turut memberontak terhadap penjajah dengan bersenjatakan seni. Ia menggabungkan diri pada perkumpulan sandiwara TERANG BULANG, kemudian pindah ke sandiwara BINTANG SURABAJA , dan di akhir tahun 1948 ia bermain di sandiwara PANTJA WARNA. Mulailah A.H. Arief terkenal di kalangan rakyat. Hamid terkenal karena suaranya yang lembut, empuk, menyayat hati setiap pendengar. Dan sekarang dapat kita menikmati alunan suaranya melalui Radio Republik Indonesia Jakarta. Ia menyanyi di orkes Pimpinan Ping Astono, dengan memakai nama samaran Kelana Djaja. Setelah keluar dari sandiwara Pantja Warna, oleh South pasific film Corp, ia diminta untuk bergabung dalam film ANGGREK BULAN, disamping R. Sukarno. Setelah film itu selesai, berturut-turut ia bermain dalam film ANEKA WARNA, HARTA KARUN, TJITRA, MENANTI KASIH, INSPEKTUR RACHMAN, semuanya produksi South Pasipic Film Corp. pada perusahaan PERSARI ia bermain dalam film BINTANG SURABAJA 1951, SELAMAT BERDJUANG MASKU, DI TEPI BENGAWAN SOLO, dan MIRAH DELIMA. Kini Hamid bermain di perusahaan film Golden Arrow. Filmnya yang pertama di Golden Arrow ialah KISAH KENANGAN, yang hingga sekarang belum lolos sensor untuk diedarkan, entah karena apa, wallahualam bi sawab. Sesudah KISAH KENANGAN ia bermain lagi dalam film BERMAIN DENGAN API, dengan Ratna Ruthinah sebagai leading lady-nya. Film “BErmain Dengan Api” inilah yang telah dikritik orang sebelum dipertunjukkan. Aneh…. Bukan?

Dan filmnya yang yang baru saja selesai ialah SIAPA DIA di mana Marlia Hardi seorang pemain watak wanita menjadi pasangannya.

Film ini mungkin akan beredar di permulaan tahun 1953. Dan masih banyak lagi film-film nya yang akan datang dan baiklah kita tunggu bagaimana hasilnya nanti. Selama mendengar cakapnya, dapatlah saya ketahui bahwa Hamid lebih senang drama daripada lucu-lucu.

Namun rol apa saja yang diberi diterimanya, katanya, untuk mengukur rol

apa sebenarnya yang sesuai dengan jiwanya..

A.H. Arief yang telah berusia 28 tahun itu, hingga kini belum mempunyai teman hidup. Wanita macam apa yang hendak dipilihnya itu masih dirahasikakannya, karena katanya itu urusan batin, dan terlebih pula katanya mencari pasangan itu gampang, tetapi menentukan pasangan itulah yang sulit.

Hamid pandai berdansa tetapi tidak pernah mengikuti sesuatu konkurs dansa. Hamid suaranya empuk, tetapi tak mau turut dalam pertandingan bernyanyi.

Apa sebabnya? Karena katanya, namanya telah dikenal sebagai bintang film, dan biarlah orang lain yang menduduki tempat-tempat itu.

Demikianlah sedikit ringkasan biografi Hamid yang dibenci, dicinta, oleh yang membenci dan mencintainya. Dan semoga lekaslah A.H. Arief mendapat pasangan yang sesuai dengan hati dan jiwanya karena ingat!!! Kata orang tua-tua: Banyak Anak, Banyak Padi, Banyak rezeki. (***)

Sumber: Majalah Aneka, Nomor 25 tahun III, 1 November 1952

Satu pemikiran pada “(Aneka, 1952) Bercakap-cakap dengan Bintang: Abdul Hamid Arif

  1. Ping balik: Lisabona Rahman Talks Film Restoration and Beyond | with Umi Lestari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s