1981-willem-apologia

(Merdeka, 1981) Dari pementasan Drama Apologia.

Dari pementasan Drama Apologia. Oleh: Muh. Hadi. Ruang pertunjukan disulap, seolah bagaikan dalam arena persidangan. Penonton dianggap sebagai orang-orang Athena yang menghadapi sudang. Dan Williem berakting, tidak di panggung, tetapi di lantai bawah dekat sekali dengan penonton  yang duduk di atas tikar. Orang yang diadili itu bernama Socrates. Dia diadili oleh pengadilan gaya Athena, pada…

teater-riau

(Berita Buana, 1981) Menjelang Festival Teater Remaja 81 di Pekanbaru: Teater Riau, Apa Kabar?

Menjelang Festival Teater Remaja 81 di Pekanbaru: Teater Riau, Apa Kabar? Oleh: Fakhrunnas MA Jabbar   FESTIVAL TEATER REMAJA ’81 akan berlangsung  pada pertengahan Maret ini. Sponsornya, di samping Kabin Kesenian P dan K Riau (mungkin) dibantu oleh pihak-pihak lain. Pokoknya sementara, Riau bisa berbesar hati karena penyelenggaraan Festival Teater itu untuk tahun ini dapat…

Teguh Karya dan Tuti Indra Malon dalam "Pacar" yang dipentaskan oleh Teater Populer tahun 1972 di Teater Arena TIM

(Tempo, 1972) Siapa Takut Lakon Pinter? (pementasan “Pacar” oleh Teater Populer)

Siapa Takut Lakon Pinter? SETELAH Ionesco, batas antara tragedi dan komedi praktis jebol. Adakah Biduanita Botak suatu komedi, lantaran hadirin bisa terus-menerus ketawa terbahak-bahak. Ataukah suatu tragedi persisnya suatu “tragedi bahasa” seperti yang dikatakan Ionesco sendiri’? Jawabnya: kedua-duanya sekaligus, seperti hidup itu sendiri pada dasar. Maka barangkali sekedar untuk memikat dan bukan suatu kesalahan penafsiran…

"Mega-Mega" yang dipentaskan oleh Teater Kecil di TIM tahun 1971

(Tempo, 1971) Mega, Arifin, Mega (Pementasan Teater Kecil)

Mega, Arifin, Mega SEHABIS pertundjukan malam itu, di belakang panggung teater tertutup Taman Ismail Marzuki, Arifin Noer berkata: “Baru sekarang ini saja tahu bagaimana mementaskan Mega, Mega” Ada pun naskah jang disebutnja itu karangannja sendiri, jang sebelum pementasannja dua malam berturut-turut pertengahan Oktober kemarin telah lebih dahulu dimainkan ditempat jang sama dua tahun lampau. Itu…

tan-tjeng-bok

(Minggu Pagi, 1960) Tan Tjeng Bok

Tan Tjeng Bok Oleh: Soemartono Mertolojo   Old Crack yang tetap bisa jaga nama – pernah dinamai Douglas Fairbank Indonesia – koleksi ikan, burung dan kucingnya semua mati karena DDT – akhirnya jadi petani. Come Back-nya Tan Tjeng Bok dalam dunia film disambut gembira. Pernah dia diminta untuk main dalam cerita “Desa yang Dilupakan” tidak…

trisnojuwono

(Minggu Pagi, 1960) Apa Kata Kawan-Kawan Terhadap Trisnojuwono

Apa Kata Kawan-Kawan Terhadap Trisnojuwono   Untuk mengenal seseorang, satu jalan yang baik barangkali ialah mendengar apa yang dikatakan tentang orang itu oleh kawan-kawan terdekatnya, yang hampir saban hari bertemu dia. Di bawah ini beberapa komentar teman-teman dekat Trisnojuwono: “Sebagai seorang redaktur yang pada banyak hal berhubungan dengan saya di percetakan, saya berpendapat Trisno perlu…

trisnojuwono

(Minggu Pagi, 1960) Trisnojuwono Yang Kami Kenal (2)

Trisnojuwono Yang Kami Kenal (Pemenang  Pertama Hadiah Sastra BMKN 1960 untuk Cerita Pendek) Tapi angan-angannya untuk menjadi Jendral akhirnya kabur oleh kenyataan bahwa ia tidak pernah naik pangkat lagi. Sersan Mayor. Setelah sebentar mengalami perawatan, Trisnojuwono dibebastugaskan karena “sakit rohani”.  Dan terjunlah ia ke dunia baru: kewartawanan dan karang-mengarang. Namun ia masih tetap bangga sebagai…

trisnojuwono

(Minggu Pagi, 1960) Trisnojuwono Yang Kami Kenal (1)

Trisnojuwono Yang Kami Kenal (Pemenang  Pertama Hadiah Sastra BMKN 1960 untuk Cerita Pendek)   TERLEBIH dahulu orangnya, bukan cerpen-cerpennya. Trisnojuwono! Ya, itu Trisno. Nama Trisno seperti nama Srimurtono. Ada lebih daru satu Srimurtono. Ada lebih dari satu nama Trisno. Di Jogja dulu, saya kepingin kenal Srimurtono. Srimurtono yang dramawan. Seorang putri Jogja yang saya tanya…

1960-sastra-ugm-bung-besar

(Minggu Pagi, 1960) WS Rendra: “Bung Besar” Fakultas Sastra Jogja

“Bung Besar” Fakultas Sastra Jogja Oleh: WS Rendra   SEORANG pengarang muda dari Senen, Jakarta, telah memenangkan hadiah kedua dalam perlombaan untuk mengumpulkan naskah drama yang terbaik tahun 1958 yang diselenggarakan oleh Bagian Kesenian, kementerian PP & K. Pengarang itu  ialah M. Jusa Biran. Dramanya ialah BUNG BESAR. Maka, BUNG BESAR tersebut adalah sebuah sandiwara…