(Suara Karya, 1973) Noorca Marendra: Teater Mapan, Teater Indonesia Masa Depan

Teater Mapan, Teater Indonesia Masa Depan Oleh: Noorca Marendra   BAYANGKAN: Sebuah mesin pemasak modern di depan anda, siap untuk melaksanakan tugas seperti biasa. Lalu sediakan bahan-bahan berikut ini: Bahan mentah: satu naskah, satu sutradara, boleh kualitas tinggi, sedang, rendah ataupun murahan, lalu sekian aktor yang kualitasnya rata-rata dan satu desaigner dan sebagai tambahan boleh…

(Kompas, 1973) Studi Teater Bogor: Drama “Sandiwara”

Drama “Sandiwara” DENGAN rata-rata pemain yang digarap teliti, ditambah penafsiran naskah “Sandiwara” nya Putu Widjaja pada karakter naskahnya yang pas, Studi Teater Bogor dalam kemunculannya yang pertama (sebenarnya yang kedua. Kemunculan pertama pementasan Kematian Oddyseus, Januari 1971. -admin) di TIM, tanggal 11 s/d 13 lalu, sempat memperlihatkan permainan bagus di atas pentas. Umar Machdam, sutradara,…

(Berita Buana, 1973) “Pak Kabul”nya Lisendra di Aula IPB

“Pak Kabul”nya Lisendra di Aula IPB Oleh: Joko   PADA tanggal 6 September yang baru lalu, LISENDRA RIC dengan sejumlah anggotanya bekerjasama dengan IPB (Institut Pertanian Bogor) mementaskan drama yang berjudul “Pak Kabul” bertempat di aula IPB yang terletak di Jln Gunung Gde Bogor. Ini bukanlah yang pertamakalinya bagi group Lisendra/RIC bekerjasama dengan rekan-rekan mahasiswa.…

(Kompas, 1973) Hardjomuljo, Pelawak yang Berat ke Film

Hardjomuljo, Pelawak yang Berat ke Film Oleh: Azka   “ORANG bilang, artis itu ndak mampu diserahi tanggung jawab, ndak becus ngurus apa-apa. Sebagai artis saya mau buktikan bahwa itu semua tidak benar. Nyatanya saya bisa ngurus RT, bahkan bisa ngurus perusahaan.” Kata Hardjomuljo pelawak yang belakangan ini sudah jarang muncul di panggung. Untuk membuktikan bahwa…

(Tempo, 1973) Rendra membuka dada

Rendra membuka dada   RENDRA membuka dada. Dramanya yang dihebohkan, Mastodon dan Burung Kondor, akhirnya dipentas kan juga di Yogya. Tidak kurang dari 3.000 penonton yang di tengah rintik hujan berjubel di gedung olahraga Kridasana pada 24 Nopember lampau, dengan memegang karcis antara Rp 250 sampai Rp 1.000 – harga yang takkan dibolehkan untuk publik…

(Tempo, 1973) Resensi Goenawan Mohamad: Sang Penyair dan Sang Panglima

Sang Penyair dan Sang Panglima Oleh: Goenawan Mohamad   PADA suatu malam Agustus 1970 W.S. Rendra ditahan. Ia, bersama 10 orang lain, bersemadi di petak rumput di tengah Jalan Thamrin, Jakarta. Malam itu beberapa ratus mahasiswa menyiapkan secara massal aksi “Malam Tirakatan”, sementara gabungan pasukan bersenjata bermaksud menggagalkannya. Bentrokan kekerasan dikhawatirkan. Rendra dan yang lain-lain…

(Kompas, 1973) WS Rendra Peringatkan: Mastodonnya Jangan Ditanggapi Secara Politik

WS Rendra Peringatkan: Mastodonnya Jangan Ditanggapi Secara Politik   Jakarta, Kompas. WS Rendra menyadari, sandidwara “Mastodon dan Burung kondor”nya terlalu ditanggapi oleh masyarakat secara politik. Padahal tidak ada ambisi politik di dalamnya, tidak ada kekuatan politik. Saya terikat pada akal sehat, tidak pada kepentingan politik tertentu. Penegasan dramawan penyair terkenal itu diberikan kepada wartawan Kompas,…

(Kompas, 1973) “Mastodon” Rugi

“Mastodon” Rugi   PEMENTASAN drama “Mastodon dan Burung Condor” di Istora Senayan tanggal 15 Desember 1973 yang lalu rugi sekitar Rp. 750 ribu. Stadion yang berkapasitas 10 ribu penonton itu (bukan 16.000 seperti berita Kompas, 17 Desember)ternyata hanya diisi dengan sekitar 4-5 ribu penonton berkarcis. Demikian dinyatakan oleh Pramana Pmd, anggota DKJ yang bekerja di…

(Sinar Harapan, 1973) Resensi Djadjak MD: Rame-rame Nonton “Mastodon” Rendra, Mengada-ada?

Rame-rame Nonton “Mastodon” Rendra, Mengada-ada? Oleh: Djadjak MD   Bukan masalah konflik antara mahasiswa versus penguasa yang ditengahi oleh Yose Karosta seperti banyak ditulis koran-koran itu yang telah tertinggal dalam benak saya. Melainkan ada beberapa hal yang justru menyangkut masalah kritik sosial, dan sekedar keseniannya. Melihat pementasan yang memakan waktu 4 hampir jam itu tidak…